Sumber : www.yukbisnis.com

 

Suatu ketika, ada seorang kawan menanyakan kepada saya, “Jay, ada kawan gak, tukang renovasi rumah orang yang bagus?”. Spontan saya teringat kawan saya yang memang berprofesi desainer interior. Karena bisnis saya tidak berhubungan dengan interior, knapa tidak saya referensikan kawan saya yang ahli. Singkat kata atas referensi tersebut, kawan saya mendapatkan order. Setelah pekerjaan selesai dan mendapat bayaran, dia menelepon saya. Dia mengajak saya keluar dan mengatakan ingin ‘berbagi’ keuntungan. Spontan saya menolak dan mengatakan, “Gak usah deh, buat kamu aja, ngapain bagi sama aku”. Dia jawab,”Lho kan atas referensi kamu, seharusnya kamu dapat dong!” Saya balik nanya,”Kenapa harus dapat?” dan seterusnya.Give and Take
Mungkin anda berfikir, kan sudah selayaknya saya ‘mengambil’ porsi saya. Istilahnya, karena saya sudah “give”, ya pantas kalo saya “take”. Yuk kita analisa. Saya berbicara dalam konteks referensi selain bisnis yang tidak berhubungan dengan bisnis saya. Seandainya saya mengambil ‘komisi’ atas jasa saya dan selalu mengambil porsi tersebut, maka apa yang akan saya pikirkan setiap kali mendapat peluang yang bukan untuk saya? “Take” dengan cara “Give”. Saya sangat yakin hubungan yang kita bangun berdasarkan “bisnis” semata bukan keikhlasan bersaudara, maka tidaklah langgeng. Tidak terjalin ikatan emosional yang kuat. Karena setiap kali kita berbuat sesuatu, kita terlebih dahulu mengharap sesuatu balasan. Saya jadi teringat saat kawan saya menyebut seseorang “Mr.5%”. Karena dia selalu ‘mematok’ 5% sebagai ‘uang dengar’ dari setiap transaksi yang diberikan ke kawannya.

Sepotong Roti
Memang tidak mudah mempraktekkannya di dunia yang sudah telanjur materialistis dan kapitalis. Semuanya dihitung dengan uang. Bahkan ada pepatah yang mengatakan,”Money is relative. The more money you have, the more relatives you have”. Tapi coba bayangkan dan rasakan, jika suatu saat ada seorang kawan, yang baru mengenal anda, tiba-tiba memberikan sepotong roti yang sangat lezat. Apalagi saat itu anda sedang kelaparan. Apa yang anda rasakan? Jika suatu saat anda memiliki ‘kelebihan’ roti, apa yang anda ingat? Saya yakin anda akan teringat seseorang yang pernah memberi anda. Nah, seandainya di dunia ini kita mau saling ‘berbagi roti’, alangkah damainya dunia. Peluang selalu ada dimana-mana, tapi belum tentu berada di tangan anda. Sebaliknya, bisa jadi peluang orang lain sekarang sedang ditangan anda.
Bagaimana jika anda telah banyak memberi tapi jarang diberi? Itu namanya investasi, biarkan bunga-berbunga. Tidak ada yang sia-sia dari setiap amal yang kita berikan. Bukankah itu rejeki yang dijanjikan! Bagi orang-orang yang mau berbagi dengan ikhlas, maka rejekinya akan didatangkan dari mata air yang tak disangka-sangka.