Sumber : forum_ea@yahoogroups.com

Dalam 2 minggu terakhir ini,saya asyik mengikuti serialnya bung Markus Tan (Trainers Club) tentang “18 Rahasia Keberhasilan Anthony Robbins”, di mana pada episode terakhir, terekspos suatu peristiwa tentang seorang nenek yang mau membiayai Anthony Robbins (AR) senilai $10.000 untuk belajar NLP.  Jelas bahwa dari peristiwa inilah kemudian AR dapat meraih kesuksesannya.

 

Petikan kisah itu mendatangkan 2 pertanyaan dari bung Adhy Trisnanto, yang rupanya tergelitik oleh jalan cerita tokoh-tokoh sukses.  Pertama, kenapa ada peristiwa yang terjadi seperti KEBETULAN – sebagaimana yang dialami AR –  kok bisa ada seorang nenek yang begitu baik hati memberi uang dalam jumlah besar tanpa kejelasan apa manfaatnya bagi diri sang nenek sendiri.

Kedua, dalam hal kesuksesan seperti yang dicapai oleh AR atau Sylvester Stallone, bung Adhy juga mempertanyakan, mengapa si A (orang-orang tertentu) bisa sukses, sedangkan si B (orang-orang lainnya) tidak?  Padahal mereka semua sama-sama berusaha dengan semangat menyala-nyala dan sama-sama berkemauan gigih memburu kesuksesan? 

Dalam jawabannya, bung Markus mengakui bahwa memang ada hal-hal yang sulit dijelaskan tentang hal itu, yang olehnya disebut sebagai “faktor x”. 

Dear sis & bro, kalau kita mau lebih jeli, “faktor x” yang lebih mirip  “faktor kebetulan” atau “faktor keberuntungan” seperti dialami AR saat bertemu si nenek baik hati tadi, sebenarnya juga dialami oleh hampir semua orang sukses lainnya.   

Kolonel Sanders, mungkin tidak akan kita kenal melalui restoran ayam goreng Kentucky Fried Chicken, kalau tidak bertemu dengan “orang sinting” yang merupakan orang keseribu sekian yang ditawari resep masakan oleh sang kolonel (setelah seribu orang lainnya menolak) dan kemudian mau bekerja sama dalam bisnis restoran yang sukses luar biasa.   

Sosok Mike Tyson sebenarnya tidak terlalu ideal untuk menjadi seorang juara dunia tinju kelas berat sejati.  Tubuhnya relatif pendek, dan jangkauan tangannya juga terbatas.  Tapi nasib mempertemukannya dengan Gus d’Amato, pelatih tinju luar biasa yang mampu memoles dirinya menjadi momok mengerikan di atas ring.  Kebetulankah pertemuan Mike Tyson dengan Gus?  

Bill Gates, tidak akan menjadi orang terkaya di dunia seperti sekarang, andaikata ia tidak kejatuhan “order buangan” dari IBM yang panik dikejar deadline  karena ordernya ditolak oleh perusahaan software Data General. Seperti diketahui, Data General adalah nominasi yang ditunjuk IBM untuk membuat sistem operasi PC, namun ternyata bos perusahaan ini menyatakan tidak berminat dalam bisnis komputer pribadi.  Lagi-lagi sebuah kebetulan ternyata menciptakan keberuntungan bagi seorang figur sukses. 

Ray Krock berhasil menjadi super sukses dengan jalan menguasai rangkaian restoran hamburger “McDonalds”.  Bagaimana mungkin?  Mungkin saja, karena dalam pertemuannya dengan pemilik asli McD, dua bersaudara Maurice dan Richard McDonalds ternyata rela menjual restoran-restoran yang telah menjadi mesin uang bagi mereka selama 30 tahun, kepada Ray.  Luar biasa bukan? Meski secara logika kejadian ini sungguh tidak logis, tapi alam sudah menentukan itu sebagai faktor keberuntungan bagi Ray Krock. 

Nah, kita sudah melihat bahwa keberhasilan para tokoh sukses yang selama ini menjadi idola kita, yang kita jadikan model-model kesuksesan, yang kita ingin tiru sepak terjangnya, semangatnya, motivasinya, leadershipnya bahkan gerak-geriknya, ternyata semua itu bisa terjadi hanya karena 1 (satu) faktor saja, yaitu KEBERUNTUNGAN! ! 

Inilah berita buruk bagi kita semua, para pengejar kesuksesan!  Sia-sia rasanya kalau selama ini kita begitu rajin dan antusias membaca buku atau mengikuti berbagai seminar motivasi, leadership, seminar tentang bagaimana menjadi kaya, revolusi keuangan, revolusi sukses, public speaking, kewirausahaan/entrepreneurship, NLP, gelombang otak, hipnotisme, magnetisme, keikhlasan dan hati nurani, Law Of Attraction, The Secret, Cashflow Game atau Seven Habit, karena nyatanya, kunci sukses itu cuma 1 hal sederhana, yaitu sekali lagi: KEBERUNTUNGAN! ! 

Apakah ini berarti mengharap kesuksesan melalui seminar, melalui buku atau media lainnya menjadi “jauh panggang dari api”? 

Dear all, saya harap jangan patah arang dulu …  Mungkin Anda masih ingat kata-kata: “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini..” ?  Lalu, kalau tidak ada yang kebetulan, bagaimana mekanismenya hingga “sang kebetulan” itu bisa terjadi? 

Tulisan ini akan saya lanjutkan pada bagian 2, di mana saya akan coba membahas soal “Hukum Sebab dan Akibat” (HSA) dengan harapan dapat memberi inspirasi tentang bagaimana peristiwa-peristiwa kebetulan seperti yang dialami AR dan kawan-kawan bisa terjadi.  Untuk diketahui, pemahaman tentang HSA akan memberikan wawasan yang sangat luas dan berguna, di mana kita tidak saja akan mengerti tentang terjadinya sebuah peristiwa baik yang kebetulan mau pun yang tidak, tapi juga membuka tabir-tabir rahasia kehidupan lainnya seperti  

  1. Bagaimana orang lain yang tidak pernah kita kenal yang tinggal nun jauh di negara lain bisa ikut membantu kesuksesan kita melalui energi positifnya.
  2. Bagaimana kehidupan orang yang tadinya bahagia sejahtera dan aman tenteram mendadak bisa hancur luluh dan sengsara.
  3. Bagaimana seorang calon manajer tahu-tahu dibatalkan promosinya.
  4. Betapa seorang sheik kaya raya dari Arab Saudi tanpa disangka bisa mengangkat anak seorang room boy hotel berbintang tempat ia menginap di Jakarta
  5. Bahwa Law Of Attraction hanya merupakan sub-sistem dari HSA
  6. Apa hubungan kesuksesan atau keterpurukan dengan KARMA
  7. Bahwa motivasi tanpa leadership akan menyebabkan orang tersesat jauh dari titik kesuksesan.
  8. Bahwa leadership akan menuntun seseorang yang “motivated” ke arah kesuksesan, namun tanpa pemahaman akan HSA kesuksesan itu akan selalu luput.
  9. Bagaimana mekanisme yang menjadikan seseorang sukses luar biasa, sehingga seakan-akan bisa menguasai dunia dengan kekuatan kekuasaan serta uang.
  10. Bahwa untuk kita yang ingin memastikan kesuksesannya harus memahami serta memiliki kendali atas “Hukum Sebab Akibat”. Mungkinkah? 

Nah, dear all, mohon komentar Anda atas issue ini..

Salam sukses! 

Rusman Hakim

Pengamat Kewirausahaan

Profec’s Entrepreneurial Leadership Center