FOKUSLAH PADA TUJUAN
Sumber : kisah seorang kawan
Saya punya cerita berdasarkan kisah nyata. Ini adalah cerita tentang 2 orang kawan lama saya di kampung. Sebut saja namanya Wawan dan Anto. Mereka berdua sejak kecil bercita-cita bahkan terobsesi untuk menjadi “Jawara”. Kemudian keduanya mengikuti sebuah perguruan beladiri yang sama, termasuk saya juga ikut waktu itu. Bedanya kalau mereka berdua belajar beladiri untuk mengejar citi-cita sebagai “jawara”, sedangkan saya hanya sekedar untuk berolahraga dan bersosialisasi.
Baiklah sekarang kita fokus pada cerita 2 orang kawa saya tadi. Sebagaimana kita ketahui, mereka memiliki cita-cita yang sama, mengambil langkah yang sama, bahkan segala hal sering mereka lakukan bersama terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan beladiri. Kebetulan rumah mereka juga bersebelahan.
Singkat cerita, kebetulan belum lama ini saya sempat pulang kampung dan mendapatkan berita bahwa si Wawan berhasil menjadi Juara 2 pertangdingan beladiri (Full Body Contact) se Jateng/DIY. Dia yang saat ini berprofesi sebagai seorang anggota Satuan PEngamanan, juga sering mendapatkan “order” sebagai pengawal pribadi beberapa pejabat atau pengusaha di sekitar Jateng/DIY. Bahkan pernah suatu hari, sebagaimana kisah dunia persilatan dalam film/sinetron, dia mendatangi seorang preman yang sudah cukup terkenal didaerah saya, yang katanya juga seorang “jawara” untuk beradu ilmu. Tetapi ternyata belum satu juruspun dikeluarkannya, preman tersebut sudah mengaku takluk. Mendengar cerita tersebut saya jadi ingat cita-citanya waktu masih kecil, mejadi “jawara” kini sudah tercapai.
Lalu bagaimana dengan Anto? Kini dia ga lebih dari sekedar preman kampung udah gitu kelas teri lagi. Bagaimana tidak, dengan kemampuan beladiri yang baru secuil sudah berlagak bak seorang jagoan. Malak sana malak sini, tapi kalau pas apes dan ketemu sama orang yang berani dan lebih kuat malah babak belur.
Lho kok bisa? Bukannya mereka punya cita-cita sama, juga mengambil langkah yang sama. Kok hasilnya beda? Setelah ditelusuri ternyata perjalanan Wawan untuk menjadi “jawara” tidaklah semudah menceritakannya. Wawan benar-benar fokus dengan tujuannya. Karena fokus, dia juga tahu atau mencari tahu bagaimana cara, langkah, dan kiat untuk mencapainya. Dengan rajin dia dating ke tampat latihan secara rutin. Sampai di rumah diulangnya lagi pelajaran atau jurus-jurus baru yang dipelajarinya di tempat latihan. Berkumpul dan bertukar pikiran dengan senior serta guru-gurunya. Bahkan menjadwalkan latihan khusus diluar perguruannya untuk meningkatkan kemampuannya.
Sedangkan Anto memamg memiliki cita-cita untuk menjadi “jawara”, tetapi dia sama sekali tidak fokus. Tidak fokus bagaimana? Memang pada awalnya mereka berdua mengambil langkah yang sama, tetapi dalam perjalanan, mereka kemudian terpisah. Rupanya Anto tidak setekum Wawan. Datang ketempat latihan saja malas, apalagi mengulag pelajaran. Anto merasa cepat puas dengan pencapaiannya. Dia merasa sudah paling hebat saat mencapai “sabuk hitam”. Sedangkan Wawan terus meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya, dan selalu merasa haus ilmu, merasa masih belum ada apa-apanya.
Dari cerita ini saya memperoleh pelajaran, bahwa jalan menuju kesuksesan itu ada. TEtapi jalan tersebut bukanlah jalan yang mudah. Jalan itu terjal, berliku, dan mendaki, bahkan adakalanya berupa gurun pasir gersang yang luas. Tetapi dengan tetap fokus pada tujuan, serta selalu meningkatkan diri dengan segala pengetahuan tentang hal tersebut, maka tujuan kita tidak mustahil untuk kita capai.
Salam
Keira
September 15, 2008 at 5:54 am
Wah bagus banget artikel2nya lho Mbak Keira… Sangat menyentuh hati & jg intuisi bisnis